Hari ibu
Hari ini, tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu di negara ini. Menjadi trending topik di sosmed. Di televisi, bbm, wa, fb. Saling memberi selamat dan memasang foto bertuliskan 'happy mother's day'.
Sebagian kecil teman memposting tulisan di grup WA bahwa peringatan hari ibu bukan termasuk ke dalam budaya kita (muslim), sebab setiap hari kita berkewajiban membahagiakan ibu, maka setiap hari adalah hari ibu.
Saya tak hendak mempertentangkan kedua pendapat tersebut. Di rumah kami biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa selain hari ini adalah selasa, suami dan anak-anak melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Saya pun tak berharap ada ucapan selamat hari ibu dari siapapun. Meskipun ada juga yangmengucapkannya dan dibalas dengan doa yang sama. Namun satu hal yang saya syukuri, saya berniat menelepon ibu, mengobrol dan saling berkabar nanti malam saat beliau menikmati waktu santainya. Saya pun tak tahu apakah beliau berharap diberi ucapan 'selamat hari ibu' dari saya? Entah.
Menjadi ibu adalah kodrati. Bisa ataupun tidak, keputusan akhirnya harus bisa. Bagi saya inilah yang lebih penting. Terutama bagaimana saya bersabar menjalani proses 'belajar' menjadi ibu. Hari kemarin tantangannya berbeda dengan hari ini, lalu saya belajar. Juga tantangan untuk besok, pasti berbeda. Begitu seterusnya.
Kenyataannya saya selalu merasa harus terus memperbaiki diri, bersabar dan belajar setiap saat. Baiklah, selamat hari ibu bagi yang merayakannya. Mari berdoa bersama, semoga dapat menjadi ibu yang amanah. Aamiin yra.
Sebagian kecil teman memposting tulisan di grup WA bahwa peringatan hari ibu bukan termasuk ke dalam budaya kita (muslim), sebab setiap hari kita berkewajiban membahagiakan ibu, maka setiap hari adalah hari ibu.
Saya tak hendak mempertentangkan kedua pendapat tersebut. Di rumah kami biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa selain hari ini adalah selasa, suami dan anak-anak melakukan aktivitas sebagaimana biasanya. Saya pun tak berharap ada ucapan selamat hari ibu dari siapapun. Meskipun ada juga yangmengucapkannya dan dibalas dengan doa yang sama. Namun satu hal yang saya syukuri, saya berniat menelepon ibu, mengobrol dan saling berkabar nanti malam saat beliau menikmati waktu santainya. Saya pun tak tahu apakah beliau berharap diberi ucapan 'selamat hari ibu' dari saya? Entah.
Menjadi ibu adalah kodrati. Bisa ataupun tidak, keputusan akhirnya harus bisa. Bagi saya inilah yang lebih penting. Terutama bagaimana saya bersabar menjalani proses 'belajar' menjadi ibu. Hari kemarin tantangannya berbeda dengan hari ini, lalu saya belajar. Juga tantangan untuk besok, pasti berbeda. Begitu seterusnya.
Kenyataannya saya selalu merasa harus terus memperbaiki diri, bersabar dan belajar setiap saat. Baiklah, selamat hari ibu bagi yang merayakannya. Mari berdoa bersama, semoga dapat menjadi ibu yang amanah. Aamiin yra.
Komentar
Posting Komentar